Rp 1 Miliar Ancaman Bagi Penyebar Berita Hoax - OBJEKTIF id

Mobile Menu

Powered by Blogger.

Advertisement

Top Ads

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

More News

logoblog

Rp 1 Miliar Ancaman Bagi Penyebar Berita Hoax

Sunday, January 20, 2019


Masyarakat perlu bijak dalam menyebar informasi di media sosial. Masyarakat harus punya sikap kritis untuk menangkal hoax yang bermunculan menjelang pemilu.

Hal tersebut disampaikan oleh Habib Aboe Bakar Alhabsyi dalam sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, kemarin.

“Terkadang tersebar informasi yang tidak benar beredar di masyarakat, ini harus diantisipasi dengan baik, jangan sampai kita terjebak ikut-ikutan menyebarkan hoax," katanya.

Aboe bilang, mendekati pemilu terkadang banyak yang menyebarkan berita bohong dan dampaknya sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Aboe menerangkan bahwa terdapat ancaman pidana untuk para penyebar hoax, baik itu di media konvensional ataupun media sosial. 

“Anda yang menyebar kabar bohong, harap berhati-hati ancamannya tidak main-main, bisa kena pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar," ingatnya.

Ketua DPP PKS ini menambahkan, Pelaku penyebar hoax bisa terancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE. Menurutnya persatuan harus diutamakan, jangan  sampai dirusak dengan berita bohong.

 Oleh karena itu, daya kritis masyarakat menangkal berita hoax mesti ditumbuhkan. “Pemilu harus diselenggarakan dengan aman dan mengutamakan persatuan. Semua pihak harus bisa menjaga diri dan mawas diri agar tidak menyebar berita bohong,” terang anggota MPR RI dapil Kalimantan Selatan 1 tersebut.

Pada akhirnya Aboe  berpesan agar semua pihsk mengantisipasi adanya berita hoax.  “Kalau ada kabar yang diterima, mari kita lakukan cek dan ricek terlebih dahulu, jangan langsung disebar. Kita dapat melakukan konfirmasi kepada pihak terkait atau melihat pada sumber resmi yang tersedia,” pesannya kepada seluruh peserta sosialisasi.